Ramadhan Menjaga Kesehatan Hati - Harian Koridor

Breaking

Home Top Ad

DINKES

Post Top Ad

Pasang Iklan Anda di Harian Koridor

Kamis, 23 April 2020

Ramadhan Menjaga Kesehatan Hati





Oleh. Hasbullah,M.Pd.I
Dosen Al Islam Kemuhammadiyah (AIK) Fakultas Kesehatan UMPRI

Pringsewu,Harian Koridor.com-Islam dengan berbagai kewajibannya salah satunya puasa merupakan ajaran Illahi yang sangat penting dan mendasar untuk menggerakan diri dan hati kepada kebaikan dalam menjalan nilai kebenaran hidup. Islam sebagai sumber nilai yang fundamental menjadikan kekuatan transendental yang menjadi manusia hidup mulia dan memliki  budi pekerti yang luhur (akhlakul karimah). Ibadah puasa itu sendiri menghadirkan nilai intriksi keIslaman untuk senantiasa menjalan berbagai macam ibadah  yang tidak pernah kita lakukan di luar puasa.

Kewajiban ibadah puasa sebagimana dijelasakan dalam Qs. Al Baqarah 183, sudah angat jelas adanya tidak ada pertentangan dan perdebatan lagi dalam konteks kewajiban puasa Ramadahan. Dalam Ayat tersebut menggambarkan urgensi ibadah puasa di bulan Ramadhan.Kata kutiba menunjukkan makna bahwa ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah wajib.

Wajib karena itu kebutuhan fitrah manusia. Allah swt. yang meciptakan manusia , Dialah yang lebih tahu hakikat fitrah ini. Dan Dialah yang lebih tahu rahasia diwajibkannya puasa. Karena itu tidak ada pilihan lain bagi manusia kecuali harus berpuasa.

Karena itu pula Allah berfirman: kamaa kutiba ‘alalladziina min qablikum. Artinya bahwa manusia terdahulu juga diwajibkan berpuasa.

Allah SWT memberi tahu kita bahwa tujuan berpuasa agar kita menja hamba yang bertakwa. Makna tinggi dari takwa itu adalah penghyatan bahwa Allah SWT hadir dalam kehidupan kita sehari-hari. Itu sebabnya pada saat berpuasa, kita sangat dianjurkan melakukan amalan-amalan yang akan mendekatkan diri kita kepada-Nya.

Amalan-amalan itu seperti membaca Al-Qur’an, melafadzkan dzikir, meneggakan sholat malam (tarawih) dan amalan-malan praktis lainnya yang membawa kepada ketenraman hati.

Sebab dengan amalan-amalan tersebut kita menjadi sadar bahwa kita harus menghadirkan Allah SWT disetiap langkah kehidupan kita di dunia. Ini menjadikan sebab mengapa puasa ditujukan kepada mereka yang beriman, dan tidak seluruh kepada manusia.

Karena dengan adanya iman ada lompatan pengalaman dalam mengadirkan Allah SWT sehingga merasakan kenikmatan dimanapun dan dalam situasi apapun.

Sehingga dengan kehadiran iman tidak akan mejadikan berat dalam menjalan rangkaian ibadah puasa, sebab Allah SWT hadir dalam Ibadah puasa orang beriman.

Pengalaman kehadiran Allah itu sendiri dapat dilakukan ketika mampu melakukan loncatan iman. Artinya Iman itu puasa bukan saja dilakukan dalam proses ritual keagamaan saja tapi sudah menghadirkan semua nilai qolbu (hati), filosofis dan psikologis dari puasa itu sendiri.

Dari situlah bahwa pengalaman akan membuka diri kita kepada keajaiban iman yang menggerakan serta mengarahkan manusia untuk dapat menikmati hidup dengan sebaik-baiknya.

Kita harus menyadari bahwa Allah SWT menciptakan manusia sebagai mahluk yang terbaik (ahsani taqwim) dengan berbagai macam karakteristinya.

Karakteristik ini akan di pengaruhi oleh kebiasaan dalam menjalankan nili-nilai keislaman yang terimplemtasikan dalam keimanan dalam bentuk prilaku salah satunya puasa. Sehingga puasa akan melahirkan karakteristik hati yang baik, sehingga puasa menjadi salah satu komponen menjadikan hati manusia sehat menuju mahluk yang terbaik.

Jika kita melihat secara keseluran nilai-nilai pada ibadah puasa, maka terlihat bahwa puasa adalah ibadah untuk saran intropeksi diri orang beriman pada hati (qolbu). Intropeksi itu melihat kualitas kualitas keimanan yang di gambarakan pada hati, lisan dan perbuatan dan puasa menjadi sarana penguat keiman dari tiga gambaran tersebut. Puasa menguatkan keimanan yang membawa batin manusia  menuju pada kebenaran (haq).

Iman adalah komitmen total kepada kenyataan paling agung, memberikan kebaranian untuk membuka pengalaman baru untuk menguak makna dari kehidupan itu sendiri.

Dengan keimanan membuat hati manusia untuk tidak takut mengadari relaitas kehidupan, yang mana realitas kehidupan tidak tetap pada realitas kebahagiaan tapi kadang juga pada realitas  yang menyedihkan.

Bulan Ramadhan yang dengannya menghadirkan Ibadah puasa, melatih kita untuk hidup akan kesadarahan hati untuk menjadi sehat, kesadaran akan nilai-nilai ketuhanan yang tergambar dari makna keimanan.

Bulan Ramadhan melatih hati dan diri untuk berani menerima kecemasan kelaparan, kecemasan kematian, hukum dosa dan pahala, kecemasan ibadah serta kecemasan akan kecukupan dalam kebutuhan kehidupan.

Hidup manusia termasuk mereka yang beriman, sering dihadapkan dengan ketikpastian. Ketidakpastian ini berangkat dari kegalauan hati dalam menghadapi hidup yang tidak disandarkan dengan sepenuhnya kepada Allah SWT. Dan puasa akan mengarahkan dan menuntut hati agar hidup di sandarkan kepada sang Khaliq semata.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah berkata dalam Syarah  Bulughul Mahram, bertkata sifat hati jika sibuk dengan kebatilan maka dalamnya tidak tersisa lagi tempat bagi kebenaran, sebagimana jika dia sibuk dengan kebenaran maka di dalamnya tidak akan tersa lagi tempat kebatilan. Hati menjadi sumber dari perbuatan manusia.Hati itu sendiri akan mendorong manusia untuk berbuat baik dan berbuat jahat.

Manusia bisa menjadi ornag baik atau buruk perbuatannya tergantung dari kondisi yang dimilikinya terhasuk hatinya. Maka hati menjadi penentu dari apa yang akan di perbuatnya, sehingga hati kita sebagai orang beriman harus dalam keadaan sehat dan kesehatan hati ini dalam Islam tetap terjaga dengan melakukan puasa.

Imam Al Ghazali membagi tiga kategori manusia. Pertama, hati yang sehat. Kondisi hati yang sehat menyebabkan keselamatan. Dimana hati yang sehat memiliki tanda-tanda di antaranya Iman yang kokoh, ahli bersyukur, tidak serakah, khusyuk dalam beribadah, suka berdzikir, penuh keberkahan hidupnya, siap menerima kelebihan orang lain dan mengakui kekurang diri sendiri.

Hati yang sehat akan merasakan hidupnya tentram dan damai dalam keadaan serta situasi apapun. Kedua, hati yang sakit. Hati sakit adalah hati yang masih memiliki keimanan dan masih mau melakukan ibadah, namun hatinya dikotori oleh maksiat dan dosa.

Hatinya selalu gelisah, jauh dari ketenangan, selalu berburuk sangka, menganggap orang lain tidak mampu, merasa dirinya paling mampu, tidak pernah merasa puasa dengan apa yang dimiliki, susah menghargai orang lain dan selalu mengurai kekurangan orang lain tanpa pernah melihat kekurangan diri sendiri. Ketiga, hati yang mati.

Hati yang terlah tetutupi dan terkotori dengan maksiat dan dosa. Hati ini tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hati yang mati tidak lagi mau menerima kebenaran dari Allah SWT baik tentang dunia maupun berita tentang akhirat. (wagiman)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pasang Iklan Anda di Harian Koridor

Pages