Bahaya Mie Instan, Makanan Susah Dicerna yang Picu Obesitas dan Hipertensi - Harian Koridor

Breaking

Home Top Ad

DINKES

Post Top Ad

Pasang Iklan Anda di Harian Koridor

Rabu, 24 Juni 2020

Bahaya Mie Instan, Makanan Susah Dicerna yang Picu Obesitas dan Hipertensi


Jakarta, Harian Koridor.com-Bahaya mie instan kini tengah jadi perbincangan. Bermula dari pengakuan seorang pria asal Bogor yang sampai muntah darah karena terlalu sering mengonsumsinya.

Banyak orang seolah tak bisa menolak kelezatan mie instan. Rasanya yang gurih enak seperti membuat ketagihan. Namun pada prinsipnya, segala sesuatu yang berlebihan tidak baik, termasuk dalam hal makan mie instan.

Bahaya mie instan baru-baru ini jadi perbincangan di masyarakat. Seorang pria berinisial T curhat di Facebook tentang kondisi kesehatannya karena terlalu sering makan mie instan. Dalam 3 minggu, ia bisa habiskan 3 kardus berisi 40 bungkus mie instan.

Kebiasaan ini berawal dari belasan tahun lalu, ketika ia masih kuliah. Saat itu di kos, T gemar makan mie instan sampai akhirnya ketagihan. Dampak parahnya, baru-baru ini tubuh T ‘berontak’ dengan menunjukkan berbagai masalah kesehatan. Ia sampai muntah darah karena saluran cernanya rusak parah.

Setelah memeriksa kondisi kesehatannya, dokter melarang T untuk makan mie instan seumur hidupnya. Ia juga tak boleh lagi menikmati makanan tak sehat yang dulu jadi favoritnya, mulai dari minuman soda, snack, sampai makanan pedas lain.

Kebiasaan tidur setelah makan juga tak boleh lagi dilakukan. Usai makan, T harus duduk atau berdiri minimal 30 menit atau 2-3 jam. Hal ini dikarenakan asam lambung akan surut mencerna makanan di lambung dalam waktu 2 jam (untuk non daging) atau 3 jam (untuk daging).

Berkaca dari kasus T, mie instan pun kembali jadi sorotan. Jenis makanan yang susah dicerna ini memicu bahaya kesehatan yang akan terjadi jika terlalu sering dikonsumsi. Para penggemar mie instan tentu harus mewaspadainya, dan kami merangkum bahaya mie instan seperti berikut:

1. Kasus T Adalah Akumulasi Gaya Hidup Tidak Sehat

Ahli gizi Dr. dr. Tan Shot Yen, M. hum menjelaskan bahwa pada kasus T, yang terjadi adalah akumulasi. “Itu semua akumulasi gaya hidup tidak sehat. Orang doyan mie instan juga doyan produk ultra proses lainnya. Nah, saling terakumulasi lah,” kata dr Tan.

Seperti diketahui, T memang mengakui kalau ia memiliki pola makan yang tidak sehat. Selain rutin makan mie instan, ia suka minum kopi instan, kopi dari merek kekinian, minuman soda, keripik, sampai chiki.

Tak ketinggalan makanan pedas dan asam seperti sambal. T bahkan sering menunda makan meski perutnya sudah lapar. Hal ini membuat asam lambungnya naik. “Mungkin kalian sedang asyik dan merasa tanggung, tapi bagi asam lambung dan tubuh kalian, tidak ada kata tanggung tersebut. Asam lambung akan tetap bekerja dan tubuh kalian harus diisi oleh makanan biarpun itu hanya biskuit crackers roma tanpa gula untuk menenangkan asam lambung tersebut,” ujarnya.

2. Mie Instan adalah Makanan Rekreasi

Dr Tan menekankan segala sesuatu yang berlebihan dikonsumsi tidak baik, apalagi untuk mie instan. Ia menjelaskan mie instan adalah makanan ultra proses yang tidak boleh dikonsumsi sehari-hari.

“Makanan rekreasi nggak bisa jadi makanan saban hari,” tuturnya. Ia bahkan mengibaratkan mie instan sebagai ‘makanan kepepet’. Misal saat ada bencana alam atau ketika seseorang naik gunung saja, barulah bisa konsumsi mie instan.

Berkaca pada prinsip makanan rekreasi, dr Tan juga menyoroti soal frekuensi ideal dari konsumsi mie instan. Tidak ada patokan pasti memang, “Asal memang sadar itu cuma buat nyumpel,” katanya.

Menurutnya tiap orang memiliki batas toleransi yang tidak sama. “Ada orang yang satu kali makan (mie instan) saja bisa muntah-muntah karena tubuhnya menolak,” ujar dr Tan.

3. Mie Instan termasuk Makanan Ultra Proses

Dalam pembuatannya, mie instan melalui banyak pemrosesan hingga disebut makanan ultra proses atau ultra-processed food. Ada banyak makanan ultra proses yang kita konsumsi sehari-hari, seperti roti, sereal, pangan kemasan, pasta, biskuit, permen, es krim, sampai margarin.

Dr Tan menjelaskan kalau makanan ultra proses pada prinsipnya melalui penambahan ‘food aditive’ seperti gula, garam, lemak, perisa, penguat rasa, dan sebaiknya. Makanan ini diproses secara industrial untuk menghasilkan makanan yang praktis dan enak.

Namun dalam konsumsinya, makanan ultra proses bisa memunculkan ragam masalah kesehatan. dr Tan menjelaskan diantaranya obesitas, gangguan gizi pada anak tumbuh kembang, dan penyakit kronis lainnya. (Dtk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pasang Iklan Anda di Harian Koridor

Pages