'Kutakatikata' Kopi di Hari Kopi? Simak 5 Kata Ala Ekonom & 'Bupati Kopi' Ini - Harian Koridor

Breaking

Home Top Ad

DINKES

Post Top Ad

Pasang Iklan Anda di Harian Koridor

Sabtu, 03 Oktober 2020

'Kutakatikata' Kopi di Hari Kopi? Simak 5 Kata Ala Ekonom & 'Bupati Kopi' Ini


bupati kopi'Bupati Lampung Barat            Parosil Mabsus, pengampu tagline          beragregat khusus 'Indonesia Negeriku      Lampung Barat Kopiku' ini menyeru:        "Petani kaya Indonesia jaya". Foto             adalah sebelum pandemi. Facebook |          Parosil Mabsus.

Bandar Lampung,Harian Koridor.com-
Tiap 1 Oktober, berlandaskan penetapan Organisasi Kopi Internasional, atau International Coffee Organization/ICO, praktis sejak 2015 masyarakat dunia diharu biru satu kali 24 jam perayaan International Coffee Day, atau Hari Kopi Sedunia.


Pengingat, jika 2018 lalu di Indonesia berlangsung di tengah duka negeri pascabencana alam gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi di Kota Palu, Donggala, dan Sigi, Sulawesi Tengah.


Hari Kopi tahun ini, tepat pada Kamis (1/10/2020) ini, lebih buruk, di tengah pagebluk. Saat termasuk, para pelaku utama dari hulu hingga hilir perkopian Tanah Air, air matanya jatuh mengalir, penghidupannya terdampak terpuruk.


Imbas ganas pandemi global bencana nonalam, COVID-19.


Namun apapun kendati bagaimanapun,  meminjam istilah Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), yang juga Ketua Umum DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko, pada satu waktu, demi menaja menuju Indonesia maju, asa gemilang bangsa pemenang, tidak bisa tidak, segenap anak bangsa sepatutnya terus bergotong-royong meniti bersama, budaya pengharapan.


Mencipta, merawat, mempertahankan optimisme, secara taken for granted, jadi bagian tugas sejarah kopi, eh, kita.


Dari itu, spesial ala specialty coffee, demi turut merekam-digitalkan tinggi harapan, simak ulasan dari dua tokoh Lampung penikmat pejuang kopi ini. Satu doktor ekonomi, satunya bupati, kopi. 


Pertama, ekonom cum filantrop, Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (NU) Lampung, Andi Desfiandi. Dihubungi Kamis sore, Andi mendedah permasalahan utama dunia perkopian Nusantara, sekaligus badan solusinya.


Ketua DPP Pejuang Bravo Lima (PBL) Bidang Ekonomi ini menilai, dari aspek produktivitas dan rantai pasok (supply) produksi kopi saat ini cenderung masih stagnan, belum ada inovasi baru yang dikembangkan.


"Selain itu, sering terjadi perebutan bahan baku antara perusahaan lokal dan eksportir asing," amatannya, dan menandaskan disinilah, (dibutuhkan) peran asosiasi dan pemerintah agar mampu memberikan solusi terhadap masalah tersebut.


Sementara di sisi demand, permintaan kopi terus meningkat baik di tingkat dunia maupun nasional. Tapi produksi cenderung stagnan, kedua-duanya.


"Seharusnya ini menjadi peluang bagi produsen kopi untuk meningkatkan produksi sekaligus juga meningkatkan kualitasnya, mengingat keterbatasan lahan dan juga petani kopi luar negeri," cetus Ketua IKA UNPAD Lampung ini.


Pada bagian lain, teknologi pengolahan dan kemasan pada industri skala kecil dan menengah (IKM) masih sangat sederhana. "Untuk itu perlu bantuan dan bimbingan dari pihak terkait untuk memberikan pengetahuan desain dan juga sentuhan teknologi," saran dia.


Guna mengatasi masih rendahnya penetrasi pasar baik nasional maupun internasional karena masih dikuasai oleh pedagang besar, Ketua Dewan Pembina Yayasan Desapolitan Indonesia (Desindo) ini mendapuk, diperlukan sebuah konsep pemasaran terpadu pemasaran produk-produk unggulan nasional, termasuk kopi.


"Pedagang kopi eceran dan gerai kopi lokal harus terus dikembangkan dan dengan mengutamakan inovasi produk dan layanan," dia menggarisbawahi.


Menggenapi dengan harapan, Ketua Yayasan Alfian Husin, pengampu 12 institusi pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi, fasilitas kesehatan, advokasi hukum, usaha rintisan, dan pengembang properti di Lampung ini, meminang perkuatan.


"Sudah saatnya kopi Indonesia bukan saja menjadi tuan di rumahnya sendiri tapi juga harus mampu menjadi raja kopi dunia, dengan membenahi tata kelola perkopian mulai dari hulu hingga ke hilir," rajam Andi bersemangat, saat jarum jam tepat menunjukkan pukul 17.41 Waktu Indonesia Barat.


Diminta 'kutakatikata' seputar lima kata tentang kopi, ini dia versi Andi. "Kopi Lampung panas paling joss!" ujar penulis buku "Jeda dan Secangkir Asa: Catatan dan Harapan Andi Desfiandi" ini mangkus, memungkasi ulasannya.


Sebelumnya, pada Kamis siang, Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus, kepala daerah berjuluk #bupatikopi, pemimpin kabupaten unik bermotto Bumi Beguai Jejama ini dan dikenal luas dengan potensi sumber daya kopinya, secara khusus membungkus satu prospektus. 


Ditanya harapan terbesar bagi upaya progresif peningkatan kesejahteraan seluruh pelaku utama hulu-hilir kopi, coffeepreneur dan rakyat Lampung Barat umumnya, turut merayakan Hari Kopi di tengah situasi sulit pandemi, Pakcik --sapaan karibnya, meracik asa.


"Semoga kedepan pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan petani kopi. Petani kaya Indonesia jaya," ujar kepala daerah penghasil kopi robusta terbesar di Lampung ini, kontributor utama Lampung sebagai penghasil kopi robusta terbesar kedua Indonesia.


Melalui pesan singkat pukul 13 53 WIB, sang bupati kopi anak petani kopi yang juga kader tulen partai banteng, PDI Perjuangan ini pun tak berkeberatan menuangkan lima kata 'kutakatikata' tentang kopi. 


"Secangkir kopi mensejahterakan para petani," ujar bupati penggagas-pejuang program vokasi industri Sekolah Kopi, sejak 2017 mula dia menjabat, yang asal tahu saja, kendatipun terpisah, per 2018 telah diaplikasikan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB), Jawa Barat.


Nah, bagi Anda penikmat setia seruput kopi, secangkir seteguk, tetap setia pula bela beli produk biji dan olahan kopi asli petani/pembudidaya kopi asal negeri sendiri apalagi saat ini ditengah kepungan pagebluk, bukan? Selamat Hari Kopi. Seruput kopi Anda, sekali lagi.(red).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pasang Iklan Anda di Harian Koridor

Pages