IHK Lampung Februari 2022 Mengalami Deflasi - Harian Koridor

Breaking

Home Top Ad

DINKES

Post Top Ad

Jumat, 04 Maret 2022

IHK Lampung Februari 2022 Mengalami Deflasi


Bandar Lampung,Harian Koridor.com-Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada Februari 2022 mengalami deflasi yaitu sebesar 0,38% (mtm), lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi bulan sebelumnya dan rata-rata inflasi bulan Februari dalam 3 (tiga) tahun terakhir yang masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,40% (mtm) dan 0,06% (mtm).


Tingkat inflasi IHK tersebut lebih rendah dibandingkan dengan Nasional dan Sumatera yang masing-masing mengalami deflasi sebesar 0,02% (mtm) dan 0,23% (mtm). Secara tahunan, inflasi Provinsi Lampung tercatat sebesar 1,29% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi Nasional dan Sumatera yang masing-masing tercatat sebesar 2,06% (yoy) dan 2,31% (yoy).



 

Dilihat dari sumbernya, deflasi pada bulan Februari 2022 didorong oleh penurunan harga pada beberapa komoditas seperti: telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, daging ayam ras, dan sabun detergen bubuk dengan andil masing-masing sebesar -0,18%; -0,12%; -0,07%; -0,03% dan -0,02%.


Penurunan harga telur ayam ras dan daging ayam ras didorong oleh terbatasnya permintaan akibat peningkatan status PPKM di Provinsi Lampung ditengah pasokan yang relatif stabil. Sementara itu, penurunan harga cabai rawit didorong oleh mulai meningkatnya pasokan seiring dengan masuknya masa panen.


Di sisi lain, penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh Kementrian Perdagangan turut mendorong penurunan harga komoditas minyak goreng. Lebih lanjut, penurunan harga komoditas detergen bubuk disebabkan oleh adanya strategi pemasaran oleh distributor untuk meningkatkan penjualan.


Meski demikian, deflasi yang lebih dalam pada periode Februari 2022 tertahan oleh tekanan inflasi yang terjadi pada sebagian komoditas di antaranya bawang merah, roti manis, sabun cair/cuci piring, pengharum cucian/pelembut dan popok bayi sekali pakai/diapers dengan andil masing-masing sebesar 0,08%; 0,02%, 0,02 %; 0,01%; dan 0,01%. Peningkatan harga pada komoditas bawang merah didorong oleh terbatasnya pasokan seriring dengan berakhirnya masa panen pada sentra produksi di pulau Jawa. Sementara itu, peningkatan harga pada komoditas roti manis sejalan meningkatnya harga bahan baku produksi. Di sisi lain, peningkatan harga pada komoditas sabun cair, pengharum cucian dan popok bayi disebabkan oleh adanya penyesuaian harga jual yang diakibatkan oleh biaya produksi yang meningkat di tahun 2022.


BACA JUGA:  Pln Pastikan Tarif Listrik Tahun 2021 Tidak Naik

Sementara itu, NTP Provinsi Lampung tercatat lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan NTP ini terjadi pada hampir seluruh subsektor, kecuali sektor peternakan.. Kenaikan NTP pada periode Februari 2022 didorong oleh adanya peningkatan harga pada komoditas ketela pohon, cabai merah, karet, lada, ikan bandeng payau dan ikan teri. Di sisi lain, tekanan inflasi pedesaan yang tergambar dari Indeks Konsumsi Rumah Tangga Petani tercatat mengalami penurunan


Tekanan Inflasi Pedesaan yang tergambar dari indeks konsumsi rumah tangga petani tercatat mengalami penurunan sebesar 0,07% (mtm) didorong oleh peningkatan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau.



 

Dengan demikian, NTP Februari 2022 tercatat meningkat sebesar 1,10% (mtm) dari 106,85 di bulan Januari 2021 menjadi 108,02 pada bulan Februari 2022. Meskipun secara umum tercatat di atas 100, NTP subsektor Tanaman Pangan dan Hortikultura tercatat masih berada di bawah 100 yang masing- masing tercatat sebesar 97,31 dan 98,66. (1/3/22).


Kedepan, menghadapi awal tahun 2022, KPw BI Provinsi Lampung memandang bahwa inflasi akan tetap terjaga pada rentang sasaran 3+1%.


Namun demikian, terdapat beberapa risiko yang perlu dimitigasi, antara Iain: dari inflasi risiko kelompok inti, adanya risiko ketidakpastian perekonomian global yang masih tinggi yang didorong oleh meningkatnya penyebaran varian omicron dan ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina, kenaikan harga komoditas global impor serta peningkatan harga akibat Second round impact VF dan AP. (*).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages