Sudarman, Beri Pencerahan pada Rapat Ahir tahun FKUB Pesawaran - Harian Koridor

Breaking

Home Top Ad

DINKES

Post Top Ad

Kamis, 14 Oktober 2021

Sudarman, Beri Pencerahan pada Rapat Ahir tahun FKUB Pesawaran


Pesawaran, Harian Koridor.com-Forum Komunikasi Umat Beragama Kabupaten Pesawaran menggelar rutinitas Organisasi, Rapat Koordinasi Ahir tahun  di Kantor FKUB Kabupaten Pesawaran, Kamis 14/10/2021. 


Hadir pada acara tersebut Dr.Hi.Sudarman,M.Ag  dan Dra.Hj.Istutiningsih, M.Sos.I Pengurus FKUB Provinsi lampung, Dr.Hi.Sukron Kasubag TU Kantor Kemenag Kabupaten Pesawaran mewakili Kepala Kemenag Kabupaten Pesawaran, Drs.Hi.Sugiarto, M.Pd.I Ketua FKUB Kabupaten Pesawaran dan seluruh pengurus FKUB dari semua golongan Islam, Hindu, Budha, Katolik, Kristen. 


Acara ini dilaksanakan dalam tiga sesi. Sesi pertama Laporan kegiatan selama satu tahun, Sesi kedua penguatan organisasi dan pimpinan oleh Kemenag Kabupaten pesawaran dan Pengurus FKUB Provinsi Lampung. Sesi ketiga Sosialisasi Peraturan Pemerintah dan Kebijakan bidang keagamaan dari.


Sugiarto menyampaikan bahwa FKUB telah banyak melakukan kegiatan yang dilakukan sesuai tupoksi. Kantor sebagai bascame organisasi telah dimiliki, sarana prasarana kantor, perlengkapan administrasi organisasi telah diupayakan sesui aturan organisasi. Dialog dengan pemuka agama, menggali aspirasi masyarakat, sosialisasi perundang-undangan dan kebijakan pemerintah tentang kerukunan ummat bragama, rekomendasi pendirian rumah ibadah dan menyelesaikan konflik antar ummat beragama. Kegiatan lain yang dilaksanakan adalah studi banding ke Bali, Jawa Timur Jawa Tengah, Jogja untuk menambah wawasan tentang model implementasi Kerukunan Beragama, Bedah rumah warga dhu’afa, membuat Pillot Proyek Desa Sadar Kerukunan  dan kegiatan lainnya yang terkait dengan harmonisasi antar ummat beragama,"Ucapnya. 


Lebih lanjut Sugiarto mengatakan keberhasilan FKUB Kabupaten pesawaran dalam pencapaian program tidak terlepas dari semangat kebersamaan dan soliditas para pengurus, dukungan pemerintah baik Kemenag, Pemerintah Daerah maupun Dinas terkait. Karena keberhasilan ini FKUB Kabupaten Pesawaran   menjadi sasaran studi Banding bagi FKUB kabupaten lain di provinsi lampung dan juga diluar Provinsi Lampung”. Pungkasnya.


Lain halnya dengan Sukron Kasubag TU mewakili Kepala Kantor Kemenag Pesawaran mengapresiasi kegiatan FKUB dan  Mengucapkan terimakasih kepada pengurus yang telah berkhidmat dalam program kerukunan ummat beragama. Kita memiliki modal moderasi beragama, sosial budaya dan Godgovermen. Sikap beragama yang moderat saling menghormati dan menghargai keyakinan agama lain menjadi modal dasar dalam menciptakan suasana rukun damai dalam kehidupan. Selanjutnya menjadi kekuatan dalam sistem sosial budaya, Ujarnya.


Sudarman sebagai Pengurus FKUB Provinsi Lampung memberikan pencerahan untuk Penguatan Organisasi dan Pengurus: 

Pertama Pengurus FKUB Kabupaten dalam melaksanakan Tupoksi  berpedoman pada  Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri dalam Negeri No.9 tahun 2006 dan No.8 Tahun 2006 Bab II pasal 9 yaitu: melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh masyarakat,menampung aspirasi ormas kegamaan dan masyarakat, menyalurkan aspirasi dalam bentuk rekomendasi ormas dan masyarakat dalam bentuk rekomendasi, melakukan sosialisasi perundang-undangan dan kebijakan dibidang keagamaan, memberikan rekomendasi tertulis atas permohonan pendirian rumah ibadat.


Kedua, terkait dengan moderasi beragama ; bahwa kehidupan saling menghargai saling menghormati antar pemeluk agama  sesungguhnya telah melekat dalam budaya bangsa Indonesia sejak beberapa abad yang lalu.  Borobudur sebagai Candi Budha terbesar di dunia yang didirikan sekitar tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra  dibangun dibawah kepemimpinan arsitek Gunadarma yang beragama Hindu. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika terdapat dalam kitab Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular yang digubah pada masa kekuasaan Raja Rajasanagara Majapahid-Hayam Wuruk sekitar abad ke-14. Lahirnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan di ruang kosong  tanpa ada peristiwa yang mengiringi. Ia lahir sebagai refleksi atas kelamnya sejarah, carut marut, pertumpahan darah antar kerajaan, antar kelompok dan golongan. Ia lahir untuk mengahiri budaya angkara murka yang jauh dari rasa kemanusiaan. Semboyan Berbeda-beda tetapi tetap satu yang muncul 600 tahun yang lalu adalah bukti yang diukir oleh sejarah, adanya kesadaran yang mendalam dari bangsa ini betapa pentingnya rasa persatuan dan kesatuan, merajut perbedaan menjadi kekuatan dahsyat untuk tegak dan berdaulatnya sebuah bangsa. 


Ketiga, dalam perspektif Islam nilai-nilai kemanusiaan dijunjung tinggi, agama Islam diturunkan kebumi untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia sesuai dengan jiwa kemanusiaannya. Bahkan konsep persaudaraan dalam Islam tidak saja terbatas antar sesama manusia tetapi ada konsep ukhuwah bashariah, saudara semakhluk,  Islam menganjurkan untuk menghormati sesama makhluk, menghormati dan menjaga kehidupan alam, tumbuhan, binatang. Misi Islam adalah menjadi  rahmad bagi seluruh alam. 


Keempat, terkait dengan tupoksi FKUB yang perlu mendapat perhatian husus adalah begaiman merawat kebersamaan, toleransi, moderasi, saling menghormati, saling menghargai, saling mengasihi yang selama ini sudah terbangun dengan baik, sudah mengurat mengakar dimasyarakat berabad-abad, kita kuatkan kembali, kita jaga kita rawat jangan sampai menjadi korban untuk kepentingan politik kekuasaan  dan kepentingan lainnya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan universal, Kata Sudarman. 


Mengahiri paparannya Sudarman yang juga Dosen Ilmu Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin UIN Raden Intan Lampung dan Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Lampung menegaskan: Program Moderasi beragama, Program Kerukunan beragama diarahkan pada bagaimana kita menguatkan masing-masing pemeluk agama agar dapat menjadi pemeluk agama yang konsisten  dengan kitab suci yang diyakini.


Masing-masing pemeluk agama meyakini bahwa agamanyalah yang paling benar. Semua agama tidak sama.Semua agama punya keunikan masing-masing. Tetapi masing-masing pemeluk agama menyadari bahwa diluar keyakinannya ada manusia lain yang punya keyakinan lain yang harus di fahami di hormati dikasihi bahkan di bela ketika kemanusiaannya terancam,harapannya. (Norwede/wagiman)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages