Kabupaten Pesawaran dan Provinsi Lampung Gelar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Sumatera II - Harian Koridor

Breaking

Home Top Ad

DINKES

Post Top Ad

Jumat, 24 September 2021

Kabupaten Pesawaran dan Provinsi Lampung Gelar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Sumatera II


Pesawaran, Harian Koridor.com-Bapak Presiden Republik Indonesia memberikan arahan tentang pentingnya Sumber Daya Manusia yang memiliki talenta digital. Ditindak lanjuti oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Direktorat Pemberdayaan Informatika, Ditjen Aptika memiliki target hingga tahun 2024 untuk menjangkau 50 juta masyarakat agar mendapatkan literasi di bidang digital dengan secara spesifik untuk tahun 2021. Target yang telah dicanangkan adalah 12,5 juta masyarakat dari berbagai kalangan untuk mendapatkan literasi dibidang digital. Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera di 77 Kab/Kota dari Aceh hingga Lampung, kamis 2 September 2021.


Sebagai Keynote Speaker adalah Gubernur Provinsi Lampung yaitu, Ir. H. Arinal Djunaidi., dan Bp. Presiden RI Bapak Jokowi memberikan sambutan pula dalam mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.


Webinar dimulai oleh NATHASYA ESTERITA, S.M Ketua OKK Sobat Cyber Indonesia, pada pilar KECAKAPAN DIGITAL yang memaparkan tema “PROTEKSI DIRI DI ERA DIGITAL”. Dalam pemaparannya, Nathasya memberikan beberapa tips agar aman dalam beraktifitas di dunia maya, antaranya berpikir sebelum klik, dan berpikir sebelum share. Ada 2 jenis jejak digital antara lain aktif yaitu unggahan kita seperti foto, video, komentar dan sebagainya serta jejak pasif yaitu riwayat kita di internet misalnya apa yang kita klik, web yang kita kunjungi, IP kita dan sebagainya. Untuk merawat jejak digital menurut Nathasya diantaranya unduh yang aman dan perlu, perhatikan term & condition, atur privasi, dan unggah hal yang positif. Sedangkan agar akun kita tetap aman maka lakukan antaranya rahasiakan OTP, teliti alamat website (domain), waspada dan membuat password yang kuat.

   

Dilanjutkan dengan pilar KEAMANAN DIGITAL, oleh IMAN DARMAWAN, S.T seorang Praktisi Publik Speaking yang mengangkat tema “JANGAN ASAL SETUJU, KETAHUI DAHULU PRIVASI DAN KEAMANANNYA”. Iman secara singkat menjelaskan bahwa privasi (data) dan keamanan adalah barang berharga. Maka berhati hatilah, selalu waspada dan tetap menjaga serta melindungi harta kita di dunia maya dari serangan digital. Untuk itu menurut Iman, pahami do and don’t, baca selalu dan pahami term & condition, dan selalu update Literasi Digital juga artficial intelegent.

     

Pilar BUDAYA DIGITAL, oleh BINTI LUTHFIYAH, S.Pd Bendahara 1 PW FNU Lampung yang memberikan materi dengan tema “CARA DAN LEGALITAS BAYAR TAGIHAN ONLINE”. Binti menjelaskan bahwa manfaat uang elektronik antara lain tidak usah membawa uang tunai, kemudahan dan kecepatan bertransaksi, dan saat dapat digunakan di semua lini seperti transportasi, tol, rumah makan, hotel dan sebagainya. Walau demikian menurut Binti, uang elektonik pun mempunyai resiko diantaranya apabila belum paham dalam penggunaannya, dapat hilang karena penipuan dan sebagainya.


Tagihan online di definisikan sebagai sebuah dokumen yang berisi daftar barang, harga dan hal lainnya yang dikeluarkan penjual untuk pembeli. Ada 5 cara pembayaran online shop diantaranya transfer bank, kartu kredit, paypal, COD dan pembayaran di mini market apabila ada transaksi belanja online dan memilih pembayaran melalui mini market yang akan diberikan kode pembayaran tertentu.

   


Narasumber terakhir pada pilar ETIKA DIGITAL, oleh Dr. MUFLIHA WIJAYATI, M.S.I Kepala Pusat Gender dan Anak IAIN Metro Lampung dengan mengangkat tema “KETERLIBATAN LAKI LAKI DALAM MEMUTUS MATA RANTAI KEKERASAN BERBASIS GENDER ONLINE”.


Mufliha menerangkan jenis kekerasan berbasis gender antara lain kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi. Semua ruang belum tentu aman seperti di rumah, sekolah, ruang publik maupun di dunia virtual. Data yang didapat dari Catahu Komnas Perempuan bahwa pada tahun 2020 pelaporan sebanyak 299 ribu, pengembalian form laporan 120, pengaduan ke komnas sebanyak 2,389 dan kekerasan berbasis gender siber sebesar 510 dan naik 400% dari tahun 2019 yaitu sejumlah 126 kasus.


Kekerasan berbasis gender online 61% pelaku dari pasangan dan orang terdekat dan 39% pelaku dari teman dan orang yang tidak dikenal. Banyak motivasi berbuat kekerasan dijelaskan oleh Muflihah diantaranya karena cemburu, agenda politik, hasrat seksual, butuh uang dan balas dendam, dengan berbagai bentuk seperti stalking, fitnah dan pelecehan. Dampak yang terjadi adalah dari sisi psikologis, fisik, sosial dan ekonomi. Mengapa kaum lelaki penting terlibat, menurut Mufliha untuk menunjukan bahwa tidak semua lelaki setuju dengan kekerasan gender, karena kekerasan gender bukan masalah perempuan atau kelompok tertentu dan melawan kekerasan gender bukan soal perempuan melawan laki laki tetapi soal masyarakat melawan sistem yang tidak adil.

   

Webinar diakhiri, oleh SELVI seorang Influencer. Nelly memberikan sharing session dengan lebih menekankan keamanan data pribadi dimana seperti pengalamannya yang pernah dihubungi oleh orang yang tidak dikenal untuk berbisnis, akun teman yang di hack sehingga sadar bahwa akunnya telah digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Selvi setuju dengan kesetaraan gender dan haru melawan sistem yang tidak adil karena kebanyakan korban kekerasan gender di dunia maya adalah wanita, sehingga sangat penting para kaum pria untuk turut mendukung dan melindungi perempuan dari kekerasan fisik, pelecehan seksual dan sebagainya di dunia maya.(*).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages